Hidup itu kertas dan kanvas. Indah atau tidaknya tergantung kita yang memberi warna. Maka siapkan kuasmu.
Minggu, 12 Oktober 2014
Sambutan
...Anak perempuan berambut pirang itu berlari kencang dengan darah mengalir deras di pergelangan tangannya. Sementara kesunyian begitu ramai dalam pikirnya. Ia berlari semakin kencang sembari menjerit-jerit. Sesekali kakinya tersandung oleh akar pohon yang besar dan kuat yang seakan-akan pohon itu siap bangkit dari tanah dan menginjaknya. Ia kembali bangkit, dan memegang pergelangan tangannya yang dari sana mengalir deras darah. Merah, kental. Anak ini tidak menyadari bahwa separuh badannya telah memucat, seperti mayat. Lalu ia memalingkan pandangannya ke belakang, dan kemudian, "Brakgg...". Ia tersandung lagi oleh sebuah batang pohon yang telah jatuh. Warnanya coklat kehijauan. Anak itu mengutuk dirinya sendiri. Kemudian dia terdiam ketika didapatinya sebuah gubuk tua di antara dua pohon besar. Setidaknya aku bisa bersembunyi dan meminta tolong kepada pemilik gubuk itu, pikirnya. Kemudian bahunya seketika dingin. Dinginnya seakan menyuntik ke bagian daging anak itu yang paling dalam. Seketika mata anak itu terbelalak lebar. Dibiarkannya darah yang terus mengalir dari nadinya. Dalam keheningan semua makhluk di sana, sebuah suara berbisik tajam dari sebuah mulut yang berdarah-darah di setiap bagian pecahnya. "Selamat datang..." . Kemudian anak itu berteriak sekencang mungkin, ketika tubuhnya tergusur-gusur oleh sebuah tangan hitam di antara rambut-rambut pirangnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar