Kamis, 16 Oktober 2014

Benang di Daun Cemara



Benang di Daun Cemara
: Raka Firmansyah

Berarak putihku di samar cemara
Kala peraduan bersenandung sunyi
Alunku berhenti
Sepasang kaki tepat berdiri
Di tanah tak berkerikil
Kaki mungil itu dituani anak berparas salju
Putih, dingin
Anak pipit pun lebih pantas tegaknya
Hitam matanya menangkap seutas benang dalam keterjatuhan
“Ibu, apa itu?”
Gumamannya menjatuhkan ranting di malam terasing
Sekali lagi
Sungguh anak pipit pun lebih pantas kicaunya
“Itu adalah kasih sayang, Nak.”
Kali ini anak itu lebih pantas tegaknya
Di keriput paras pemilik kaki lain
Kecilku sungguh berarti di malam dingin membeku
Sungguh sedikit pun aku tak kuasa
Selimuti anak itu yang kini sontak berjinjit
Anak itu terlunta
Hendak menggapaiku
Juga halangi secercah sinar yang datang
Di celah anyaman bilik cokelat
Kali ini matanya memerah
Lantas menangis lagi

Minggu, 12 Oktober 2014

Sambutan

...Anak perempuan berambut pirang itu berlari kencang dengan darah mengalir deras di pergelangan tangannya. Sementara kesunyian begitu ramai dalam pikirnya. Ia berlari semakin kencang sembari menjerit-jerit. Sesekali kakinya tersandung oleh akar pohon yang besar dan kuat yang seakan-akan pohon itu siap bangkit dari tanah dan menginjaknya. Ia kembali bangkit, dan memegang pergelangan tangannya yang dari sana mengalir deras darah. Merah, kental. Anak ini tidak menyadari bahwa separuh badannya telah memucat, seperti mayat. Lalu ia memalingkan pandangannya ke belakang, dan kemudian, "Brakgg...". Ia tersandung lagi oleh sebuah batang pohon yang telah jatuh. Warnanya coklat kehijauan. Anak itu mengutuk dirinya sendiri. Kemudian dia terdiam ketika didapatinya sebuah gubuk tua di antara dua pohon besar. Setidaknya aku bisa bersembunyi dan meminta tolong kepada pemilik gubuk itu, pikirnya. Kemudian bahunya seketika dingin. Dinginnya seakan menyuntik ke bagian daging anak itu yang paling dalam. Seketika mata anak itu terbelalak lebar. Dibiarkannya darah yang terus mengalir dari nadinya. Dalam keheningan semua makhluk di sana, sebuah suara berbisik tajam dari sebuah mulut yang berdarah-darah di setiap bagian pecahnya. "Selamat datang..." . Kemudian anak itu berteriak sekencang mungkin, ketika tubuhnya tergusur-gusur oleh sebuah tangan hitam di antara rambut-rambut pirangnya.