Rabu, 15 Januari 2020

Embun Merah


Embun Merah
Karya : Raka Firmansyah


Dalam nanar tatapmu
Engkau bergeming
Memicing
Berpaling dalam hening

Dingin itu
Membunuh arloji hitam
Di tujuh belas detik
Persimpangan tanpa rambu

Bersama senyap
Kau mengayun angkuh hendak basahi tanah
Yang haus akan darah

Di tujuh detik terakhir
Engkau tak juga turun
Untuk berbagi kesejukan
Lalu hatiku mengumpat menyumpahimu

Sedetik kemudian
Aku mencibir
Mengutuk kepergian tanpa langkah ini

Di antara kabut pekat yang memudar
Kudapati kau mengelok berlenggok diri
Merah
Bersinar
Memekat
Seperti darah

Dua detik kemudian
Terbaca kata kalbuku
Desiran ketakutan

Lalu
Dalam sisa hening ini
Dingin itu berteriak
Keras sekali

Lurus !
Pikirkan !
Tentukan !
Ini adalah heningmu !
Perjuanganmu !
Darahmu !
Embun merahmu !

Kemudian bersama habisnya sunyi pagi itu
Bersama  irama merdu burung berbalas kicau
Aku pun mulai berlari

Senin, 08 Juni 2015

Event Menulis Cerpen Bertema Laut

Laut merupakan ekosistem penting di bumi. Sebagian besar wajah planet biru ini didominasi olehnya. Begitu pun Indonesia dikenal sebagai negeri dengan perairan yang luas dan kekayaan bawah lautnya yang luar biasa. Sudah begitu banyak inspirasi yang telah lahir darinya. Mulai dari lukisan, potret indahnya yang diselimuti senja, ribuan puisi yang menggambarkan meganya juga karya-karya lainnya. Nah, bersama Vio Publisher, saya ingin mengajak teman-teman untuk berpartisipasi menyelam dalam lautan inspirasi yang dihadirkan oleh laut. Ayo, berkarya melalui event ini!

A. Syarat Tulisan
  • Tulisan adalah cerpen bertema LAUT.
  • Panjang cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia minimal 3 halaman dan maksimal 4 halaman. Diketik rapi pada halaman A4 document word, margin normal, spasi 1.5, Times New Roman 12 pt. Simpan dengan format naskah: LAUT Nama Penulis – Judul Cerpen. Contoh: LAUT – Gee S – Orang-orang Laut.
  • Di akhir naskah tuliskan biodata narasi maksimal 100 kata.
  • Genre cerpen bebas, petualangan, fantasi, misteri, apa pun asal tidak mengandung unsur SARA dan pornografi. Setting laut bebas, bisa laut yang ada di Indonesia atau di Luar Negeri atau dalam bentuk fantasi (jika genre yang ditulis adalah fantasi). Jadi, ayo riset!
  • Tulisan merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Juga bukan hasil PLAGIAT!

B. Cara Berpartisipasi
  • Peserta hanya boleh mengirim satu karya terbaiknya.Naskah dikirimkan dalam bentuk MS. Word (berupa lampiran bukan di badan email) ke email geekazuko@gmail.com dengan subjek: LAUT Nama Penulis – Judul Cerpen. Contoh: LAUT – Gee S – Orang-orang Laut.
  • Di badan email tuliskan nama lengkap, nama pena, Tempat/tanggal lahir, alamat, akun facebook/twitter, serta nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Periode pengiriman naskah dimulai pada 11 Mei 2015 dan berakhir pada 8 Juni 2015, bertepatan dengan World Oceans Day.
  • Peserta wajib menyebarkan info lomba ini dengan tag minimal 25 orang teman (termasuk akun facebook: Gee S) atau posting di blog, pilih salah satu.
  • Peserta wajib menyukai fanspage Vio Publisher : (https://www.facebook.com/pages/Vio-Publisher/462843750532366?ref=ts&fref=ts)
  • Peserta wajib bergabung dalam grup Kotak Kata : (https://www2.facebook.com/groups/kotakkata.viopublisher/?ref=ts&fref=ts)

C. Pengumuman Pemenang
  • Pengumuman cerpen terbaik dan kontributor terpilih akan diumumkan pada bulan Juli mendatang.
  • 20 cerpen yang terpilih akan dibukukan secara indie di Penerbit Vio Publisher. 

D. Reward
  • Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut:
   - Cerpen terbaik 1: memperoleh 1 buku bukti terbit + voucer penerbitan Paket Super Lengkap di Vio Publisher senilai Rp 100.000,-  + e-sertifikat
   - Cerpen terbaik 2: voucher penerbitan Paket Super Lengkap di Vio Publisher senilai Rp 100.000 + e-sertifikat.

#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 2 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.


Ayo, segera hadirkan cerpen lautmu! Ditunggu partisipasinya, teman-teman! ^^ Terima kasih.

Info lebih lanjut hubungi: @geesandrj atau Gee S (https://www.facebook.com/geekazuko).

Kamis, 16 Oktober 2014

Benang di Daun Cemara



Benang di Daun Cemara
: Raka Firmansyah

Berarak putihku di samar cemara
Kala peraduan bersenandung sunyi
Alunku berhenti
Sepasang kaki tepat berdiri
Di tanah tak berkerikil
Kaki mungil itu dituani anak berparas salju
Putih, dingin
Anak pipit pun lebih pantas tegaknya
Hitam matanya menangkap seutas benang dalam keterjatuhan
“Ibu, apa itu?”
Gumamannya menjatuhkan ranting di malam terasing
Sekali lagi
Sungguh anak pipit pun lebih pantas kicaunya
“Itu adalah kasih sayang, Nak.”
Kali ini anak itu lebih pantas tegaknya
Di keriput paras pemilik kaki lain
Kecilku sungguh berarti di malam dingin membeku
Sungguh sedikit pun aku tak kuasa
Selimuti anak itu yang kini sontak berjinjit
Anak itu terlunta
Hendak menggapaiku
Juga halangi secercah sinar yang datang
Di celah anyaman bilik cokelat
Kali ini matanya memerah
Lantas menangis lagi

Minggu, 12 Oktober 2014

Sambutan

...Anak perempuan berambut pirang itu berlari kencang dengan darah mengalir deras di pergelangan tangannya. Sementara kesunyian begitu ramai dalam pikirnya. Ia berlari semakin kencang sembari menjerit-jerit. Sesekali kakinya tersandung oleh akar pohon yang besar dan kuat yang seakan-akan pohon itu siap bangkit dari tanah dan menginjaknya. Ia kembali bangkit, dan memegang pergelangan tangannya yang dari sana mengalir deras darah. Merah, kental. Anak ini tidak menyadari bahwa separuh badannya telah memucat, seperti mayat. Lalu ia memalingkan pandangannya ke belakang, dan kemudian, "Brakgg...". Ia tersandung lagi oleh sebuah batang pohon yang telah jatuh. Warnanya coklat kehijauan. Anak itu mengutuk dirinya sendiri. Kemudian dia terdiam ketika didapatinya sebuah gubuk tua di antara dua pohon besar. Setidaknya aku bisa bersembunyi dan meminta tolong kepada pemilik gubuk itu, pikirnya. Kemudian bahunya seketika dingin. Dinginnya seakan menyuntik ke bagian daging anak itu yang paling dalam. Seketika mata anak itu terbelalak lebar. Dibiarkannya darah yang terus mengalir dari nadinya. Dalam keheningan semua makhluk di sana, sebuah suara berbisik tajam dari sebuah mulut yang berdarah-darah di setiap bagian pecahnya. "Selamat datang..." . Kemudian anak itu berteriak sekencang mungkin, ketika tubuhnya tergusur-gusur oleh sebuah tangan hitam di antara rambut-rambut pirangnya.